Kamis, 4 Juni 2026

Dugaan Riset Bodong WNI di Konferensi ISPPD Denmark, Periset Ungkap Bisa Lolos karena Hanya Dicek Abstrak

Photo Author
Septi Nugrahaini R, Hukumtoday.com
- Selasa, 26 Mei 2026 | 17:01 WIB
Menyoroti lolosnya penelitian Rifaldy Fajar cs di konferensi ilmiah internasional di Denmark. (Instagram/w.o.d.d)
Menyoroti lolosnya penelitian Rifaldy Fajar cs di konferensi ilmiah internasional di Denmark. (Instagram/w.o.d.d)

JAKARTA - Dugaan penipuan riset yang menyeret nama Rifaldy Fajar dan Prihantini dalam konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark, tengah menjadi sorotan publik dan viral di media sosial.

Kasus itu mencuat setelah sejumlah periset asal Indonesia mengungkap dugaan pemalsuan data penelitian hingga penggunaan identitas akademik dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang digelar pada 17-21 Mei 2026.

Dua periset Indonesia, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, membagikan kronologi dugaan riset bermasalah tersebut melalui media sosial.

Setelah viral, warganet juga menemukan bahwa Rifaldy dan Prihantini disebut telah beberapa kali mengikuti konferensi ilmiah internasional lainnya.

Dalam unggahan videonya di Instagram, Dwi menjelaskan salah satu alasan riset yang diduga menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) itu bisa lolos ke tahap konferensi internasional.

Baca Juga: Ketua Fraksi NasDem DPRK Aceh Selatan Puji Semua Civitas MUQAS

Menurutnya, proses seleksi abstrak dalam konferensi ilmiah internasional umumnya hanya memeriksa ringkasan penelitian, bukan keseluruhan data riset.

“Faculty member atau yang memeriksa itu memeriksa ribuan abstrak. ISPPD itu nyaris 1.000 abstrak yang di-submit dan yang diperiksa itu cuma 300 kata saja,” kata Dwi dalam unggahannya, Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan, penggunaan istilah ilmiah yang terdengar meyakinkan dan mengangkat tema baru di bidang pneumonia dapat membuat abstrak terlihat kredibel di mata reviewer.

“Kalau ditulis AI dan pakai kata-kata yang fancy di bidang yang menggabungkan keilmuan dan hal baru, itu bisa terlihat seperti penelitian baru. Tapi reviewer tidak melihat poster secara keseluruhan,” ujarnya.

Baca Juga: Blackout Sumatera Masih Misterius, Polisi Sebut Faktor Cuaca tapi Teknisi Curiga Kabel Dipotong

Dwi menilai, dalam situasi reviewer harus memeriksa ribuan abstrak, kemungkinan riset bermasalah lolos seleksi memang bisa terjadi.

Selain itu, ia menyebut proses seleksi juga didasarkan pada asumsi bahwa setiap peneliti menjunjung tinggi integritas akademik.

“Mereka tidak akan sampai cross-check data di abstrak, karena asumsi semua ilmuwan berintegritas,” katanya.

Halaman:

Editor: M Taufik Zass

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Terkini

X