Kamis, 4 Juni 2026

Catatan Kecil untuk Bang Ansarullah Ida: Jejak Seorang Advokat yang Hidup dalam Ingatan

Photo Author
M Taufik Zass, Hukumtoday.com
- Rabu, 3 Juni 2026 | 02:02 WIB
Dr. Ansarullah Ida, S.H., M.H
Dr. Ansarullah Ida, S.H., M.H

Ada orang yang dikenal karena jabatan dan profesinya. Ada pula yang dikenang karena pemikiran, keteladanan, dan pengaruh yang ditinggalkannya dalam kehidupan banyak orang. Dr. Ansarullah Ida, SH, MH adalah sosok yang bagi saya berada dalam kategori kedua.

Sebagian besar orang mengenalnya sebagai advokat yang cerdas, berani, dan tajam dalam berargumentasi. Sebagian besar lagi mengenalnya sebagai akademisi, aktivisme, dan pejuang keadilan.

Namun bagi saya, beliau adalah guru kehidupan, seorang sahabat diskusi yang tidak pernah lelah mendorong orang lain untuk tumbuh, belajar, dan berani mengambil jalan hidup sendiri.

Saya pertama kali mengenalnya sekitar tahun 2007 ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum sekaligus wartawan di Harian Aceh. Saat itu saya mendapat kesempatan menulis profil beliau yang kemudian dimuat di halaman utama Harian Aceh.

Tulisan itu menjadi awal dari hubungan yang terus terjalin hingga akhir hayatnya. Hubungan yang semula bersifat profesional perlahan berkembang menjadi persahabatan yang berisi diskusi, pertukaran gagasan, dan pembelajaran yang sangat berharga.

Kepercayaan beliau kepada saya tumbuh seiring berjalannya waktu. Dalam sejumlah perkara yang ditanganinya di Pengadilan Negeri Banda Aceh, beliau sering mempercayakan kepada saya untuk menyusun rilis pers yang kemudian disiarkan kepada para wartawan.

Dari sana saya mulai mengenal lebih dekat cara berpikirnya, cara beliau membaca persoalan hukum, sekaligus cara beliau memandang kehidupan.

Diskusi-diskusi kami tidak pernah berhenti pada teks undang-undang atau ruang konferensi. Kami berbicara tentang keadilan, tentang masyarakat, tentang masa depan Aceh, bahkan tentang bagaimana seseorang harus menyiapkan masa depannya sendiri.

Ketika saya tidak lagi berada di Banda Aceh dan menetap di Aceh Selatan, komunikasi kami tetap terjalin. Beliau menjadi salah satu sosok yang sering saya hubungi ketika menghadapi persoalan hukum yang rumit.

Tidak jarang beliau ikut memperbaiki dan menyempurnakan argumentasi hukum maupun konsep pledoi yang sedang saya susun.

Di tengah kesibukannya sebagai advokat dan akademisi, beliau selalu menyediakan waktu untuk berbagi ilmu.

Tidak pernah pelit pengetahuan. Tidak pernah merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan dari junior yang sedang belajar memahami dunia hukum.

Salah satu nasihat beliau yang paling membekas dalam ingatan saya adalah tentang pentingnya kemandirian dan pendidikan.

"Adinda, jangan menggantungkan seluruh masa depan pada pekerjaan yang hari ini Adinda jalani. Bangunlah kompetensi, perkuat keilmuan, dan teruslah menempuh pendidikan. Kemandirian lahir dari ilmu, keberanian, dan kemampuan yang ditempa secara konsisten sepanjang hayat."

Halaman:

Editor: M Taufik Zass

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Terkini

X