Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi saya, kalimat tersebut menjadi kompas yang mengarahkan banyak keputusan penting dalam hidup.
Dorongan untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak lepas dari motivasi yang beliau berikan.
Hingga hari ini saya percaya bahwa sebagian keberanian yang saya miliki untuk melangkah dan berkembang lahir dari nasihat tulus yang ditanamkannya bertahun-tahun yang lalu.
Namun Bang Ansarullah bukan hanya sosok yang serius dan penuh gagasan. Di balik ketegasannya, tersimpan pribadi yang hangat dan humoris.
Saya masih teringat ketika demam batu akik melanda masyarakat Indonesia. Saat itu dia sedang menempuh Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.
Beliau memesan tiga batu cincin khas Aceh Selatan kepada saya. Batu-batu tersebut saya berikan tanpa meminta bayaran.
Beberapa waktu kemudian dia kembali menghubungi saya. Kali ini beliau memesan sepuluh batu lagi dengan harga yang berkali-kali lipat dari harga awal.
Sambil tertawa beliau berkata, "Biar Adinda ada untung. Anggap saja usaha sampingan."
Barangkali bagi orang lain itu peristiwa biasa. Namun bagi saya, disitulah terlihat karakter beliau. Tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga berusaha membantu dengan caranya sendiri.
Tidak hanya mengajarkan teori tentang kemandirian, tetapi juga mendorong orang lain untuk berani memulai.
Dalam dunia advokasi, nama Ansarullah Ida dikenal luas sebagai pengacara yang memiliki keberanian, integritas, dan ketajaman analisis yang sulit dipatahkan.
Penampilannya mungkin terkesan keras dan garang, tetapi siapa pun yang mengenalnya lebih dekat akan menemukan pribadi yang sangat peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Beliau menangani banyak perkara bukan semata-mata karena pertimbangan materi, melainkan karena keyakinannya bahwa hukum harus menjadi instrumen keadilan bagi mereka yang membutuhkan pembelaan.
Ketegasan berpikirnya selalu berpijak pada hati nurani. Karena itulah beliau tidak hanya menjadi advokat yang membela dengan kecerdasan hukum, tetapi juga dengan hati.
Lahir di Matang Glumpang Dua, Peusangan, beliau juga mengabdikan dirinya sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Aceh.