JAKARTA - Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan dugaan pemalsuan riset yang menyeret sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Kasus ini mencuat setelah dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, mengunggah dugaan tersebut melalui akun Threads miliknya, Senin (25/5/2026).
Dalam unggahannya, Mandhara menyoroti dampak serius dugaan kasus itu terhadap kredibilitas ilmuwan Indonesia di mata dunia.
“Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan,” tulis Mandhara.
Baca Juga: Blackout Sumatera Bikin UMKM Rugi, DPR Desak PLN Siapkan Skema Ganti Rugi
ISPPD sendiri merupakan konferensi ilmiah internasional yang membahas pencegahan dan penanganan penyakit pneumonia serta infeksi pneumokokus. Forum tersebut diikuti para peneliti, akademisi, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara.
Dalam unggahannya, Mandhara menyebut ada tiga nama WNI yang diduga terlibat, yakni Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.
Ketiganya diduga mengikuti konferensi menggunakan hasil penelitian palsu untuk memperoleh travel grant atau bantuan pendanaan perjalanan konferensi.
Travel grant umumnya diberikan kepada akademisi atau peneliti untuk mendukung biaya perjalanan dan presentasi karya ilmiah pada forum internasional.
Baca Juga: PHK Sepihak Kian Marak, Pengamat: Tekanan Ekonomi Mulai Terasa di Dunia Usaha
Mandhara menduga data penelitian yang dipresentasikan merupakan hasil fabrikasi menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia juga menyebut penelitian tersebut diduga tidak pernah dilakukan secara nyata. “Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga,” ungkapnya.
Tak hanya itu, dugaan lain juga muncul terkait penggunaan identitas berbeda selama konferensi berlangsung. Mandhara menyebut para peserta diduga menggunakan nama serta kartu identitas yang berbeda saat presentasi.
Dalam dokumen artikel ilmiah yang dibagikan di media sosial, kelompok tersebut disebut menggunakan afiliasi AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation di Jakarta, serta Universitas Negeri Yogyakarta.