Alfachmi mengaku Farhan kemudian meminta izin memanfaatkan ruko tersebut sebagai usaha kafe sembari menunggu akses umrah kembali dibuka.
Meski demikian, usaha tersebut disebut tidak berkembang sesuai harapan. Alfachmi juga mengaku mulai curiga setelah Farhan mengklaim menjadi korban penipuan namun tidak menunjukkan bukti yang meyakinkannya.
"Saya mulai curiga karena dia tidak bisa menunjukkan bukti-bukti penipuan itu," tulis Alfachmi.
Baca Juga: Ledakan Diduga Bom Peninggalan PD II di Biak, 5 Orang Mininggal dan 3 Masih Dicari
Ia juga mengaku kecewa karena modal yang telah dikeluarkannya tidak memberikan hasil sesuai rencana awal pendirian perusahaan.
Hubungan bisnis keduanya kemudian berakhir. Alfachmi menyebut Farhan sempat berjanji mengembalikan sebagian dana yang telah dikeluarkannya dalam kurun waktu dua tahun.
Tak berhenti di situ, Alfachmi juga mengklaim Farhan kemudian menjalankan Hanania Travel dengan menggunakan PT Khazanah Tamma International yang sebelumnya didirikan bersama.
Menurutnya, saat memeriksa legalitas perusahaan, ia menemukan nama PT tersebut digunakan dalam operasional Hanania Travel meski dirinya masih tercatat sebagai Komisaris Utama.
"Ternyata Farhan menggunakan PT Khazanah Tamma International untuk menjalankan Hanania," tulisnya.
Alfachmi mengaku sempat meminta penjelasan kepada Farhan terkait penggunaan perusahaan tersebut.
Ia juga mengklaim pernah ditawari sejumlah uang untuk mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama.
Selain itu, Alfachmi menuding konsep bisnis dan merek RAWAHEL yang sebelumnya dirancang bersama juga digunakan kembali oleh Hanania Travel.
Menurut pengakuannya, setelah dirinya mempersiapkan usaha travel umrah sendiri, komunikasi dengan Farhan menjadi sulit dilakukan hingga akhirnya Hanania meluncurkan merek RAWAHEL sebagai sister brand.
Ia mengklaim konsep yang digunakan memiliki kemiripan dengan gagasan yang pernah dibahas bersama saat awal membangun usaha.